Tag

, , , ,


source: meme.yahoo.com

Angin sore berhembus santai, membuat bunga-bunga kamboja tua berjatuhan, tanpa daya terpaksa mengikuti gravitasi sebagai kehendak alam, kehendak Rabbnya, dan meninggalkan mereka yang muda, segar, dan mekar. Dedaunnya, mereka gemerisik lirih seolah menyapa kami yang baru saja tiba di sana. Hari ini kami akan belajar mengambil hikmah, bersama putraku kini kami berziarah berdiri di depan pusara seorang yang dirindu.

Langit yang mulai berwarna jingga keemasan, menambah sempurna suasana di pemakaman itu yang begitu hening, bahkan sepertinya hanya suara nafas dan degup jantungku saja yang kudengar. Sunyi, sepi, “apakah ia kesepian disana?”, pikirku sesaat.

Kami mendekat, lalu berjongkok di samping makam, lalu kami bergantian menabur bunga, perlambang cinta kami untuknya. Almarhum adalah sosok ayah yang penuh kasih, sosok suami yang penuh cinta, sosok sahabat yang penuh perhatian, dan juga beliau sosok pemuda yang begitu mencintai da’wah dan ummat.

Masih kuingat kata-kata terakhirnya sebelum ia tertidur panjang dalam koma, dengan suara parau yang hampir tak terdengar, ia berbisik,

“gimana baksos kita? Sayang, aku sekarang belum bisa ikut lagi. Sampaikan maaf untuk ikhwah semua ya!

Aku tak tahan jika mengingat saat-saat terakhir ia berkata-kata, ya, itu memang kata-kata terakhirnya. Bulir-bulir kepedihan yang telah menggenang jatuh dari muaranya, mengalir lepas mencari tempat untuk meratap. Tak dapat aku melawan pilu.

Sejak ia koma, telah 10 hari aku menemaninya dirawat di ICU Rumah Sakit. Sendiri dalam ruangan perawatan super intensif, ia harus akrab dengan sahabat-sahabat baru yang menjaganya, alat-alat medis canggih. Ventilator yang selalu “terjaga”, selang-selang infus yang mensuplai obat dan nutrisi, ada juga kabel yang dilekatkan ke pelipis kepala dan dada, yang terhubung dengan mesin kontrol digital yang aku tak tahu namanya, mungkin itu yang disebut Electro Cardio Graph. Juga yang tak pernah berkedip, camera CCTV tak lelah mengawasinya selamat 24jam yang selalu terhubung ke ruang monitor perawat.

Perawatan yang dilakukan benar-benar intensif dan ketat, sehingga tak ada seorang pun yang boleh menunggu di dalam, bahkan keluarga sekalipun. Ruangan harus selalu dalam keadaan tenang dan steril. Saat keluarga dan kerabat menjenguk, kami hanya bisa melihat dari luar ruangan yang disekat kaca, kecuali benar-benar penting, kami harus masuk ruangan maksimal dua orang saja dan dengan mengenakan pakaian khusus yang telah disterilkan.

Namun pada hari ke-12 aku menjadi benar-benar tersadar, sehebat apapun upaya manusia, saat Allah menetapkan takdirnya, tak ada sesuatupun yang dapat menghalangi. Pada masa kritis, aku hanya bisa terdiam melihatnya dari luar ruangan. Hari-hari sebelumnya pun beberapa kali aku menyaksikan terjadi kondisi kritis. Tim dokter dan perawat begitu sibuk memberi tindakan, memberikan injeksi, pacu jantung dilakukan berulang-ulang, dan lain-lain. Ingin sekali aku masuk kedalam, melakukan sesuatu untuknya, tapi tak mungkin, tak ada yang dapat kulakukan. Tapi kali ini berbeda. Tak lama berselang, dari dalam ruangan sang dokter menggelengkan kepala, memberikan tanda. Allah telah menetapkan takdir untuknya, ia yang dicinta dipanggil Allah, sahabat-sahabat barunya tak mampu menolongnya.

Rasanya tubuhku begitu lemas dan tiba-tiba saja bergetar, “Yaa Rabb ini takdir dari Mu.. kami percaya ini yang terbaik untuknya, untukku, dan untuk kami semua” aku mencoba menghibur diri. Tapi kemudian aku merasa hatiku begitu hancur, “Rabb, bagaimana Fatih, ia akan sangat kehilangan ayahnya? Bagaimana Fatih harus menjadi yatim di usianya yang belum genap 3 tahun..? Bagaimana ia akan sekolah? Bagaimana…?” berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, pikiran itu membayangiku dalam pedihnya duka kehilangan.

Saat itu aku berdo’a,

Ya Allah semoga almarhum Kau berikan tempat yang terbaik,
tempat orang-orang sholeh berkumpul,
diterima amal kebaikannya dan dimaafkan segala khilafnya.
Dan Rabb, datangkanlah seorang ayah yang lembut hatinya untuk Fatih.
Amiiin yaa Rabb.
 

Hari ini tepat dua tahun almarhum meninggalkan kami. Dengan rindu, kami berdoa untuk almarhum. Dalam cinta, kami panjatkan harap dan pinta padaNya. Semoga orang yang kami sayangi mendapat rahmat dariNya. Ku genggam erat tangan istriku, dan kupeluk kuat Fatih puteraku, takkan ku biarkan lagi duka menghinggapi mereka. Setelah selesai ziarah kami segera pulang, dan disana hanya kami tinggalkan untuknya rindu yang begitu dalam terpendam..

***

Dengan nada agak tinggi ibu bicara,

“Tapi Ibu ga mau kamu nikah sama janda, udah punya anak lagi! Apa kata tetangga Nif kalo kamu nikahi dia?! Ibu ga sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka!

“Kamu kan bisa minta sama ustadz Karim, biar dicariin calon istri yang cantik, yang masih gadis, Ibu ga minta yang macem-macem. Mau guru PAUD, sarjana ekonomi,  atau dokter, yang penting sayang sama kamu dan sayang sama Ibu! Bo ya nikah yang normal-normal aj to le..” Ibu masih teruus nyerocos.

Sepertinya beliau benar-benar belum bisa membuka hatinya saat aku mencoba menyampaikan wacana untuk menikahi Pratiwi. Tapi aku mengerti, Ibuku sebagai seorang perempuan memiliki “aku sosial” yang tinggi, karenanya akan sangat mempertimbangkan input dan persepsi dari lingkungannya, “apa kata tetangga?”, “gimana kata orang?” dll .

“Hanif, kamu tuh kurang apa le? Kamu tuh Anak ibu yang paling ganteng, semua gadis disini mengharap kamu jadi suaminya, Ibu-Ibu pengajian sini juga banyak yang ingin besanan sama Ibu. Apalagi kamu udah S2, lulusan Master Kebijakan Publik dari Universitas Negeri terbaik di Yogja, prospeknya cerah, calon pejabat. Kamu kan bisa pilih calon istri yang mana saja yang kamu suka!” Ibu mencoba memberi nasehat untukku.

“Bu, persaudaraan ini begitu kuat mengikat hati-hati kami. Begitu dalam cinta yang telah Allah anugrahkan sehingga aku tak mampu untuk mengindahkannya. Aku dan Farhan sudah lama bersahabat dekat, bahkan kata Ibu, ia sudah Ibu anggap anak sendiri. Kita kuliah bareng, liqo(ngaji) bareng, apalagi sejak Farhan tinggal di rumah ini, begitu banyak kami telah berbagi.” dengan lembut aku menjawab pertanyaan ibu yang begitu emosi.

Sesaat ibu terdiam, dan aku melanjutkan,

“Dan aku pun belajar dari Ibu, bahwa ikatan persaudaran dalam aqidah Islam lebih erat dari hubungan yang diikat darah dan nasab. Bukankah tingkatan persaudaraan tertinggi adalah mendahulukan kepentingan saudaranya? Sekarang saudaraku Farhan telah lebih dulu meninggalkan kita, dan ia meninggalkan Fatih dan Pratiwi. Siapa lagi yang akan bertanggung jawab atas mereka selain saudaranya? Aku saudara terdekatnya, Bu.”  aku mencoba menjelaskan.

Ibu tahu Hanif, Ibu ngerti, Tapi Ibu tetap gak setuju kalo kamu memilih Pratiwi!! Ibu ga mau punya mantu janda! Ibu ga siap.Ibu memberi ultimatum.

Iya Bu, ya udah. Nanti kita bicarain lagi ya, nanti Hanif pikirkan lagi semuanya. Kenapa Hanif cerita semua sama Ibu karena memang Hanif perlu pertimbangan Ibu, tapi sekarang hanif mau ngeberesin bikin proposal buat besok.” aku mengelak, sebelum ibu bicara panjang lebar dan ngomong macem-macem lebih baik aku sudahi diskusi kali ini.

“Iya, tapi jangan begadang, ntar kamu sakit!” ibu menjawab singkat.

Aku khawatir kalo Ibu sudah bicara keras, atau banyak pikiran, biasanya migrainnya suka kambuh. Setelah Bapak meninggal, Ibu menjadi lebih sensitif, karenanya aku harus lebih pengertian dan berhati-hati saat bicara dengan Ibu.

***

Satu minggu telah berlalu sejak diskusi terakhir dengan Ibu, ya, soal menikah. Malam itu, sengaja aku mengosongkan jadwal. Ba’da Isya aku mengundang Ustadz Abdul Karim untuk mampir ke rumah agar bisa membantuku bicara dengan ibu. Aku memang sudah bicara dengannya beberapa hari yang lalu. Setelah ku ajak makan malam seadanya, kami mulai bicara.

“Bu, opor ayamnya mantap sekali, apalagi ini pake sambal rawit tua, tambah maknyuus! Seger Bu, Saya sampai nambah ni Bu..!” sambil mengusap bibirnya dengan tisu makan, Ustadz Karim tersenyum sumringah membuka pembicaraan. Beliau memang paling pintar bicara, terbukti kata-katanya mampu membuat ibu tersanjung.

“Alhamdulillah Ustadz, seadanya. Mudah-mudahan ga mengecewakan, apalagi kami kedatangan tamu istimewa.” Ibu tersenyum membalas penghormatan Ustadz.

“Alhamdulillah, Iya Bu, makasih hidangan spesialnya. Bu ga pengen cepet mantu? Biar ada yang bisa bantu masak loh Bu, jadi Ibu ga cape-cape lagi.” Ustadz mulai memancing pembicaraan.

“Iya Sih, ibu maunya begitu, cepet-cepet, biar ibu ada temen dirumah. Sendirian disini sepi. Tapi tuh si Hanif maunya aneh-aneh.” Kata Ibu.

“Bu, saya sudah mendengar rencana menikah Hanif, ia pun kemaren menjelaskan kondisinya pada saya. menurut Ibu gimana ?” Ustadz Karim memulai pembicaraan serius.

“Iya, Kalo maksudnya mau nikah sama Pratiwi, ibu ga setuju. Ibu juga tau Pratiwi perempuan yang shalihah, ia santun sama orang tua, hormat, sayang sama anak dan suaminya, terus aktif juga di kegiatan masyarakat. Tapi Kalo Hanif nikah sama janda, kan ga enak kalo nanti setiap hari denger kata-kata gunjingan dari tetangga.” Ibu memberi jawaban.

“Wah sepertinya Ibu sudah kenal ya bagaimana Pratiwi? tapi soal gunjingan tetangga, ibu sudah pernah dengar?” Ustadz bertanya.

“Iya, dulu juga kan sering mampir kesini sama Farhan, sama Fatih juga. Kemarin-kemarin juga waktu ada Pelayanan Kesehatan dari kelompok pengajiannya, dia kesini bawa kupon buat Ibu.” Ibu menjawab.

“ini Bu, buat cek gula darah sama kolesterol, biar Ibu tetep sehat, nanti datang ya. Kalo ibu ga ada teman, nanti aku mampir, kita pergi sama-sama” ibu melanjutkan, menirukan kata-kata Pratiwi.

“belum ada sih, tetangga yang bicara macem-macem.” ibu menambahkan.

“Kalo ga ada tetangga yang bicara macem-macem berarti kita ga usah su’udzan ya Bu, ya? keliatannya Pratiwi perhatian juga ya Bu?” Ustadz memancing Ibu agar lebih terbuka.

“Iya, Tiwi memang perhatian banget sama Ibu. Setelah menjemput Fatih pulang dari TPA, mereka sering mampir karena Fatih pengen ketemu Eyang Uti, katanya. Dan ga jarang lho dateng kesini sambil bawa bungkusan kue cucur atau buah sawo, dia tau kesukaan Ibu.” Ibu cerita lebih banyak.

“Wah, Ibu suka buah sawo toh? ko aku baru tau?” Aku spontan berkomentar.

“Ya kamu siih, ga pernah beliin Ibu. Kalah sama Tiwi!!” kata Ibu.

Bu, itikad Hanif ini baik dan mulia loh. Mungkin keputusannya tidak biasa, dan berbeda dari pemuda lain yang inginmenikah. Tapi bukankah ibu selalu berdoa dan berharap untuk memiliki anak yang sholeh? betul kan bu?!” Ustadz Karim bertanya retoris.

“ya pasti dong ustadz!” ibu tegas menjawab.

“tapi keinginannya menikahi janda itu loh, yang saya ga ngerti!” tukas ibu.

Nah sebenarnya, inilah jawaban Allah Ta’ala atas doa-doa yang selalu Ibu panjatkan…” kata Ustadz.

“tapi saya ga pernah doa minta mantu janda, Ustadz..!” Ibu menyela.

“Ya saya paham. Maksudnya begini, Ibu, bersyukurlah memiliki Hanif. Allah telah menerangi akal pikirnya. Allah telah memuliakan hatinya, Allah telah mencelupnya dengan sebaik2 warna akidah dan fikrah, sehingga ia memiliki perilaku yang lurus, dan pandangan yang bijak. Keridhoannya untuk menikahi seorang janda bukan semata karena nafsu dunianya, tapi dengan penuh kesadaran ia mendasari keputusannya pada ukhuwah islamiyah. Lebih jauh lagi Hanif benar-benar yakin bahwa  keputusannya akan berbuah ridho Allah. Allah telah menganugerahi Ibu seorang anak yang sholeh.” Ustadz Karim menjelaskan dengan bijak.

Ibu terdiam, kata-kata ustadz membuatnya merenung.

Nif, apa sih yang kamu cari dari menikahi Pratiwi, seorang janda yang sudah punya anak?” dengan lebih tenang ibu bertanya.

“Sejak Farhan meninggal, bayangan Fatih selalu mengisi pikiranku Bu. Aku merasa, Allah menginginkan aku mengemban sebuah amanah. Menjaga dan melindungi Fatih, dan itu berarti dengan cara yang baik saya pun harus menjaga Ibunya, tentu dengan menikahinya. Aku Ingin saudaraku tenang disana, dan aku pun ingin mantan istri juga anaknya bahagia disini. Aku tidak ingin menjadi egois dengan meninggalkan mereka. Justru dengan menikahi Pratiwi kehormatannya sebagai wanita suci tetap terjaga, dan pendidikan Fatih lebih sempurna dengan adanya figur seorang ayah. Aku ingat saat di pemakaman Farhan dulu, saat Farhan dikuburkan Fatih hanya bermain-main tanah sambil memanggil ayahnya,”Abi, Abi ngapain Abi dibawah? Nanti kita main lagi ya Bi”. Aku belum lupa itu Bu.” aku terdiam sejenak.

“Tidak ada yang buruk dengan menjadi janda dan menikahinya jika itu sesuai dengan ketetapan Allah, Bu. Rasanya dengan aku menikahinya, kita justru menjauhkan fitnah. Namun yang utama, Itsar Bu, mendahulukan saudara. Kita bisa memberikan kebaikan untuk Pratiwi dan Fatih. Itu yang dicontohkan Rasulullah dan dicintai Allah. Maka jika ibu bertanya apa yang saya harapkan dari pernikahan ini, maka hanya satu yang saya harap Bu, cinta dan rahmat Allah saja”. aku melanjutkan.

Karena itu, Hanif mohon ridho dan doa restu Ibu.” aku memohon sambil kupegang tangan ibu yang begitu lembut, namun mulai kering dan keriput, dan ku kecup punggung tangannya perlahan. Tangan yang telah begitu lelah membesarkanku, tangan yang begitu terampil mendidikku. Tanpa sadar aku menangis di pangkuannya, Ibu, sungguh mulia Engkau. Ohh, Aku terkenang dengan pengorbanannya selama ini.

Air mata Ibu tak terbendung, bagi Ibu, semua penjelasanku begitu logis dan dapat dipahami, ya, semua karena cintaNya. Ia baru menyadari anaknya kini telah menjadi pribadi dewasa yang sangat faham filosofi hidup dalam bingkai agama. Anak sholeh, ya anak sholeh, itu yang ia inginkan. Anak semata wayangnya bukan lagi anak kecil yang selalu merengek saat menginginkan sesuatu, tapi telah tumbuh sebagai pemuda yang kukuh dalam kebijaksanaan, kasih sayang, dan ketulusan.

“Kalau saja Bapak masih ada dan melihat kamu le.. Bapakmu pasti bahagia, ia telah berhasil membesarkan puteranya” Ibu berkata lirih, dan ia kecup keningku sambil tersenyum.

***

Purnama menggantung indah, menerangi hangatnya malam di kota Yogja. Satu bulan telah kulalui dengan istriku, Dyah Ayu Pratiwi, dan putraku Muhammad Al-Fatih, ya kami sangat bahagia. Jenak-jenak inilah yang paling membahagiakan kami. Ibu bukan saja telah memberi restu, tapi justru memintaku agar segera menikahi Pratiwi. Aku yang sebelumnya sudah begitu dekat dengan Fatih, tidak ada masalah berarti dalam berinteraksi, hanya saja sekarang sedikit canggung saat ia dan istriku memanggilku “Abi”.

Kini, semua benar bahagia. Rumahku menjadi lebih hangat setelah Istriku dan Fatih pindah dari rumah lamanya, dan Ibu sekarang tidak lagi kesepian. Kami tentu saja sangat berterimakasih kepada Ustadz Karim, guruku, yang dengan bijak ia telah membuka hati Ibu, dan menghimpun cinta kami dalam dekapan ukhuwah.

Saat itu, dalam suasana bahagia Ibu memberi pesan untukku,

“dan sebuah keputusan besar akan hadir bersama dengan konsekuensi besar.. kuatkan hati!! Jika tak sanggup, mintalah pertolongan Allah.”

____________________________________________

Referensi : Sepertinya kamu akan suka yang ini juga, Catatanku tentang Ibu

Iklan