Tag

, , ,


duhai bunga imaji..
aku merindumu disini..
meski aku tak pernah tahu siapa engkau..
kau bayangan dengan jiwa sempurna..
jiwamu mengisi relung hampa jiwaku..
kau merasa,
kau mencinta,
kau mendamba,
kau menaruh asa,
duhai bunga imaji..
namun sungguh aku membencimu..
karena ketiadaanmu..
karena kuingin hadirmu..
seutuhnya.

Gila, sekarang aku terjebak dalam lamunan. Disini, disudut kamar kosku yang pengap berukuran 2,5×3 meter. Merasa hilang ditinggalkan seseorang yang bahkan tak kukenal. Hanya nama dan nomor ponsel yang dia tinggalkan. Tidak tentang kisahnya, tidak juga sekedar foto hitam putih gambar wajahnya. Padahal lewat MMS atau surel semua menjadi mudah, tapi kisah ini pengecualian atasnya. Semuanya berjalan begitu cepat, dari perkenalan singkat, hingga cerita-cerita tentang dingin malam, kesepian, kesunyian, dan tentang rindu kehangatan tentunya.

Ya, setelah malam itu, setelah kita saling melepas rasa dengan kata dan cerita, semakin penasaran aku dibuatnya. Namun hari ini ia tak lagi mengirimku pesan singkat, bahkan hanya sekedar sapa, “pagii..” atau biasanya “halo ganteng..”, tak ada lagi. Aku merasa sendiri, setelah kurang dari 1 pekan ia hadir lewat pesan singkat, dan kini hilang tanpa jejak.

Bahkan tanpa pesan selamat tinggal.

***

Maka aku memutuskan untuk melupakannya, melupakan kisah perjumpaan yang tidak biasa. Lagipula mengingatnya cukup menyita energi yang seharusnya kugunakan untuk menyelesaikan bab 4-5 skripsiku yang sudah tertunda 2 bulan, sementara dosen pembimbingku yang  killer abis sudah sering menagih seperti debt collector.

Ya, kisahku ini dimulai dengan miscall dan sms pada pukul 11.20 malam, 5 hari yang lalu. Gadis, ia memperkenalkan dirinya, namun aku rasa ia tak sungguh-sungguh membuka diri. Akhirnya kubulatkan tekad untuk menghapus bayangnya. Jujur, aku memang tak akan benar-benar melupakannya, dalam kisah akan kusimpan ia di ruang kenangan sudut hatiku yang membiru. Bagaimana tidak, beberapa hari terakhir pesan singkatnya memberondongku, seperti muntahan peluru perang dunia kedua. Pesan-pesan yang dikirimnya begitu manja, sulit kuhindari hingga aku tergoda memanjakannya.. Ahhh. Pusing aku dibuatnya.

Perlahan tapi pasti kurangkai kata, kususun makna, untuk menyampaikan kisah tentangnya. Kucatat dalam buku harianku, seperti biasanya.

dan sungguh hadirmu seperti bebunga krisant diujungnya musim semi..
kuncupmu layu sesaat kau mulai mekar..
mentari tak lagi hangat memeluk, tapi panas membakar..
lalu kau layu, mati, dan perlahan hilang.
 
Dan sungguh hadirmu seperti lembayung,
ya, kau cahaya, memberi terang meski sesaat,
kau hangat, lembut, dan cantik wajahmu merona jingga..
lalu kau pudar, gelap, dan perlahan hilang. 
 
tapi tahukah kau?
sungguh kau indah,
sesaat kau memberi wewangi,
seluruh ruang jiwaku terisi.
seruak aroma menyentak imaji,
sekilat membungkam intelejensi,
aku lunglai, hanyut dalam mimpi.
 
ya, aku terbawa ke duniamu.
pintamu titah bagiku.
kau sentuh bibirku kelu..
kurengkuh raga indahmu..
inginmu menderu.
nafasku memburu.
jiwa bersatu, raga berpadu.
di puncak kita bertemu, kala itu.
 
tapi sayang..
kau tak nyata..
kau tak pernah ada..
kau hanya rangkaian kata yang kubaca..
kau hanya deret kalimat yang kumakna..
kau hanya bayangan..
dan aku, tak mencinta bayang-bayang..
 

***

Saat itu hari sudah gelap tanpa bulan menggantung di atasnya, ya begitulah terlihat seadanya dari jendela buram kamarku, dan aku pun sudah tak tahan diserang kantuk yang menyambar. Malam itu tak ada lagi ingatanku tentang Gadis, ya kecuali sedikit saja terbersit sesekali.  Aku mulai terpejam, sesaat mulai tak terjaga. Namun tiba2 saja ponselku berbunyi, 1 sms baru, kubuka lalu kubaca,

“Kini tubuhku terkulai lemas tak berdaya… Ia menegurku karena tidak memperhatikan kondisi tubuhku… Ahhh… Andai saat ini kau ada di sisiku… Ingin kurasakan pelukan hangatmu… Kan ku rengkuh pelukmu dan tak ku lepas lagi hingga pagi menjelang…”

Gadis!! Malam itu ia mengirim pesan dengan bahasa puitis yang sedikit dipaksakan. Gadis baru saja curhat tentang dirinya dan sepi yang menemani bersamanya. Seketika saja hilang kantuk dari mataku yang tadi begitu berat menggantung, karena walaupun malas memberi respon, aku cukup menantikan kabar darinya..

Seperti pada awalnya aku sudah bertekad kuat-kuat untuk tak pedulikan pesan-pesan singkatnya, tak pedulikan hadirnya. Pikirku, untuk apa kupedulikan bayangan. Sosok yang tidak pernah kutahu pasti siapa dan dari mana. Walau kutahu ia pernah cerita sekedarnya saja, aku tak pernah tahu benar tidaknya ia punya kisah. Tahukah kau? Bahkan aku tak pernah tahu apakah ia gadis cantik atau bahkan tak memiliki wajah.. hahaha.. Aahh, tapi iba dalam hati terlalu kuat mendorongku untuk mengirim pesan balasan..

“kamu sakit, dis?”

 Ah sial, aku luluh juga akhirnya, membalas pesan singkatnya.. Sial, sial! Aku mengumpat dalam hati sekenanya. Ternyata satu balasan sms, membuat ponselku tidak berhenti bersuara, terus berbunyi setiap kali menerima pesan, dan lalu saat aku mengirim pesan balasan, dan malam menjadi lebih panjang dari biasanya.

Aku tersadar bahwa aku kembali tergerus dalam pusaran kisah tak jelas mula dan tak pasti ujung. Aku kembali bertanya lewat sms,

“jadi kamu demam? dah minum obat?”

Seorang gadis yang kesepian dalam sunyi, tengah menanti kehangatan riuh canda.. Ia membalas pesanku segera

“cukup kamu penawar sakit bagiku, cukuplah kau disini, dan sentuh aku” 

Sebagai laki-laki dewasa aku mengerti kalau gadis itu meminta kehangatan dariku.. “sial, aku sulit menghindarinya..!!”, dalam batinku. Mendapat sms begitu lelaki mana yang tidak panas dingin karenanya. Ternyata bukan hanya canda yang ia minta, ternyata dekap dan peluk pun ia mau.. whats wrong with me? Aku begitu terhanyut mengikuti arus permainan ini.. dan tahu apa yang membuatku tertegun malam itu?

Ia bilang,

“beri aku kehangatan, aku ingin bercinta”

WHAAAT? kegilaan macam apalagi yang kuhadapi? gadis yang baru saja lunglai karena demam, kini ingin bercinta. ya, lewat pesan singkat pula? Bagaimana? Bagaimana caranya? Aku sama sekali tidak mengerti, makhluk halus mana yang telah merasukinya..? Kenapa harus lewat SMS, sayang? Berbagai pertanyaan mengisi benakku. Pikirku, kalaupun kau ingin, aku bisa memberimu, tanpa ragu aku mau, tentu sebelumnya aku harus tahu bahwa kau punya wajah cantikmu. Aku tertawa sendiri dalam lamunanku. Lalu kubalas pesan singkatnya,

 “aku bisa kerumahmu, akan kusentuh tubuhmu”

namun sejurus ia berucap,

“itu ada waktunya”

“aku memang bukan wanita sholehah, tapi aku juga bukan wanita murahan yang dengan begitu saja menyerahkan tubuhku untukmu, ya saat telah halal, kau akan mencumbu tubuhku sepuasmu..”

apa?? Terkaget aku membaca balasan SMS-nya,kubaca berulang, karena pandanganku belum lepas dari kata-kata yang ditulisnya. Sulit kupercaya, seorang gadis yang memburu kenikmatan palsu berbicara jujur soal nilai keperawanan.

Aku kembali tertegun dalam sepiku…

Setelah akhirnya menemani Gadis bercumbu semu, malam itu..

 ***
termenung aku terjerembab kedalam ruang maya..
ku tergerus dalam pusaran kisah gundah,
dan ku tersentak dengan sebuah cerita.
kejujuran gadis bayangan,
ia meminta hangat cinta,
ia yang memberi rerasa,
meski semu, walau palsu,
ia menyimpan mahkotanya terjaga..
tak biarkan tubuhnya terjamah.
dan bukan karena dogma,
“hanya untuk yang dicinta saja” katanya.
Iklan